MindMap Gallery BAHASA INDONESIA
This is a clear mind map of the Indonesian language, mainly showcasing Learning Activities 1. Text Types and Units of Indonesian Language that Form Texts, Learning Activities 2. Structure, Function, and Linguistic Principles of Fixed Texts, and other aspects. Each content is further explained on several levels. The mind map elaborately expounds on the learning activities, text formation, structure, and function of the Indonesian language, providing comprehensive guidance for learners.
Edited at 2021-08-29 06:38:06BAHASA INDONESIA
Kegiatan Belajar 1. Ragam Teks dan Satuan Bahasa Pembentuk Teks
a. Ragam Teks
1. Teks faktual
a) Teks Deskripsi
b) Teks Prosedur/Arahan
2. Teks Tanggapan
a) Teks Eksposisi
b) Teks Eksplanasi
3. Teks Cerita
a) Teks Cerita Ulang
b) Anekdot
c) Eksemplum
d) Naratif
4. Teks Normatif
b. Satuan Bahasa Pembentuk Teks
1) Kalimat
Kalimat adalah satuan gramatikal yang disusun oleh konstituen dasar dan intonasi final. Konstituen dasar itu dapat berupa klausa, frase, maupun kata (Keraf, 2000). Contohnya: a. Aldo membeli buku (klausa) b. Buku baru! (frase) c. Buku! (kata) Membuat Batik Tulis Proses pembuatan batik tulis adalah proses yang membutuhkan teknik, ketelitian, dan kesabaran yang tinggi. Batik sebagai warisan budaya yang agung perlu kita lestarikan. Dengan latihan yang tekun dan semangat melestarikan budaya, kita dapat belajar membuat batik tulis. Kalimat di atas jika dilafalkan maka akan jelas peranan intonasi final dalam menentukan status kalimat. Kalimat satuan sintaksis dapat diperluas dengan menambah klausa dengan sifat hubungan parataktis koordinatif atau subordinatif
a) Klasifikasi kalimat
Berdasarkan jumlah klausanya, kalimat dibedakan menjadi kalimat tunggal, kalimat bersusun, dan kalimat majemuk. (1) Kalimat Tunggal Kalimat tunggal adalah kalimat yang terdiri dari satu klausa bebas. Contoh: (a) Dia datang dari Bandung. (b) Nenekku masih sehat. (c) Saya sedang membaca buku di kamar. (2) Kalimat bersusun Kalimat bersusun adalah kalimat yang terjadi dari satu klausa bebas dan sekurang-kurangnya satu kalimat terikat.Ada beberapa sebutan untuk sebutan kaliat bersusun, misalnya kalimat majemuk bertingkat, atau kalimat majemuk subordinatif. Contoh: (a) Kalau Alya menangis, Aldo pun ikut menangis. (b) Aldo tidak pergi ke sekolah karena sedang sakit. (c) Karena ada banyak siswa yang tidak siap, ujian dibatalkan. (3) Kalimat Majemuk Kalimat majemuk adalah kalimat yang terjadi dari beberapa klausa bebas yang disebut juga sebagai kaliat setara. Contoh: (a) Alya membuka jendela kaar lalu membersihkan tempat tidur. (b) Aldo hobi bermain bola dan sering menciptakan gol. Berdasarkan struktur klausanya, kalimat dibedakan menjadi: (1) Kalimat Lengkap Kalimat lengkap adalah kalimat yang mengandung klausa lengkap.Sekurangkurangnya terdapat unsur objek dan predikat. Contoh: (a) Ibu guru mengajar bahasa Indonesia di depan kelas. (b) Adik bermain sepeda di halaman rumah. (2) Kalimat Tidak Lengkap Kalimat tidak lengkap adalah kalimat yang hanya terdiri dari subjek saja, predikat saja, objek saja, atau keterangan saja. Contoh: (a) Selamat Pagi! (b) Silakan antre! (c) Alya! Berdasarkan amanat wacana, kalimat dibedakan menjadi: (1) Kalimat deklaratif Kalimat deklaratif adalah kalimat yang mengandung intonasi deklaratif yang dalam ragam tulis diberi tSaudara titik. Contoh: (a)Gaji guru honor tidak dinaikan. (b) Dalam bulan ramadhan kaum muslim berpuasa. (2) Kalimat introgatif Kalimat introgatif adalah kalimat yang mengandung intonasi introgatif, yang dalam ragam tulis biasanya diberi tSaudara Tanya. (a) Apakah Saudara seorang guru? (b) Di mana tepat terjadinya Perang Dunia II? (3) Kalimat imperatif Kalimat imperatif adalah kalimat kalimat yang mengandung intonasi imperatif yang dalam ragam tulis biasanya diberi tSaudara seru. (a) Berikan hadiah ini kepada temanmu! (b) Bukalah pintu itu! a) Kalimat aditif Kalimat aditif adalah kalimat terikat yang bersambung pada kalimat pernyataan, berupa kalimat lengkap atau tidak. Contoh: (1) Sedangkan bulan Mei, terang hujan tidak ada. (2) Hanya belum punya anak. b) Kalimat responsif Kalimat responsif adalah kalimat terikat yang bersabung pada kalimat pertanyaan, berupa kalimat lengkap atau tidak. Contoh: (1) Ya! (2) Tadi malam! c) Kalimat interjektif Kalimat interjektif adalah kalimat yang dapat terikat atau tidak. Contoh: (1) Wah ini baru namanya penampilan! (2) Semoga Allah memberikan petunjuk! Berdasarkan pembentukan kalimat dari klausa inti dan perubahannya, kalimat dibedakan menjadi kalimat inti dan kalimat noninti. b) Kalimat Inti Kalimat inti adalah kalimat yang dibentuk dari klausa inti yang lengkap, bersifat deklaratif, aktif, netral, atau firmatif.Biasanya disebut kalimat dasar. Contoh: (1) FN + FV : Bapak datang (2) FN + FV + FN: Ibu membeli sayur (3) FN + FN : Ayah guru. c) Kalimat Noninti Kalimat ini dapat diubah menjadi kaliat noninti dengan berbagai proses transforasi; pemasifan, pengingkaran, penanyaan, pemerintahan, pelepasan, dan penembahan. Contoh: (1) Buku dibaca oleh Alya. (2) Alya tidak membaca buku. (3) Apakah Alya membaca buku? Berdasarkan jenis klausa, kalimat dibedakan atas kalimat verbal dan kalimat nonverbal. a) Kalimat verbal Kalimat verbal adalah kalimat yang dibentuk dari klausa verbal. Contoh: (1) Alya menulis surat, (2) Ibu bertamu ke rumah bibi. (3) Surat ditulis Alya. b) Kalimat nonverbal Kalimat nonverbal adalah kalimat yang dibentuk oleh klausa nonverbal sebagai kontituen dasarnya. Contoh: (1) Nenekku pensiunan guru. (2) Mereka di kamar depan. (3) Ibu guru cantik sekali. Berdasarkan fungsi kalimat sebagai pembentuk paragrap, kalimat dibedakan atas: a) Kalimat Bebas Kalimat bebas adalah kalimat yang mempunyai potensi untuk menjadi ujaran lengkap, atau kalimat yang dapat memulai sebuahparagrap, wacana tanpa konteks lain yang memberi penjelasan. b) Kalimat Terikat Kalimat terikat adalah kalimat yang tidak dapat berdiri sendiri sebagai ujaran lengkap. Contoh: Sekarang di Riau sukar mencari terubuk (1). Jangankan ikannya, telurnya pun sangat sukar diperoleh (2). Kalau pun bisa diperoleh, harganya melambung selangit (3). Makanya, ada kecemasan masyarakat nelayan di sana bahwa terubuk yang spesifik itu akan punah (4). Kalimat (1) pada teks di atas adalah contoh kalimat bebas. Tanpa harus diikuti kalimat (2), (3), dan (4), kaliat sudah dapat menjadi ujaran lengkap yang bisa dipahami. Sedangkan kalimat (2), (3), dan (4) adalah kalimat terikat. Ketiga kalimat itu secara sendiri-sendiri tidak dapat dipahami, sehingga tidak dapat berdiri sendiri sebagai sebuah ujaran.
2) Paragraf
Paragraf dapat diartikan sebagai satuan gagasan di dalam bagian suatu wacana, yang dibentuk oleh kalimat-kalimat yang saling berhubungan dalam mengusung satu kesatuan pokok pembahasan.Dengan demikian, paragraf merupakan satuan bahasa yang lebih besar daripada kalimat.Namun, paragraf juga masih merupakan bagian dari satuan bahasa lainnya, yaitu wacana.Sebuah wacana umunya dibentuk lebih dari satu paragraf. (Kosasih & Hermawan, 2012) Secara umum, paragraf dibentuk oleh unsur gagasan pokok dan beberapa gagasan penjelas.Selain itu, ada unsur yang disebut kalimat utama dan kalimat penjelas. Hubungan kalimat utama dengan kalimat penjelas sering kali memerluka kehadiran unsur lain yang berupa kata penghubung atau konjungsi. Berikut disajikan diagram unsur-unsur paragraf. Gambar 1. Unsur-unsur Paragraf
a) Gagasan Pokok dan Gagasan Penjelas
Secara umum, paragraf dibentuk oleh dua unsur, yakni gagasan pokok dan beberapa gagasan penjelas. (1) Gagasan pokok merupakan gagasan yang menjadi dasar pengembangan suatu paragraph. Dengan demikian, fungsinya sebagai pokok, patokan, atau dasar acuan pengembangan suatu paragraf. (2) Gagasan penjelas merupakan gagasan yang berfungsi menjelaskan gagasan pokok. Penjelasannya, bisa dalam bentuk uraian-uraian kecil, contoh-contoh, atau ilustrasi, kutipan-kutipan, dan sebagainya (Kosasih, 2012). Berikut contoh pola hubungan gagasan pokok dengan gagasan penjelas.
b) Kalimat Utama dan Kalimat Penjelas
Kalimat utama merupakan kalimat yang menjadi tempat dirumuskannya gagasan pokok. Letaknya bisa di awal, di tengah, ataupun di akhir paragraf. Ada pula kalimat utama yang berada di awal dan di akhir paragraf secara sekaligus.Walaupun terdapat pada dua kalimat, tidak berarti paragraf itu memiliki dua gagasan pokok, gagasan pokok paragraf tersebut tetap satu. Adapun keberadaan kedua kalimat utama hanya saling menegaskan: kalimat pertama menegaskan kalimat terakhir ataupun sebaliknya. (Kosasih, 2012) Sementara itu kalimat penjelas merupakan kalimat yang menjadi tempat dirumuskannya gagasan penjelas.Satu kalimat utama lazimnya mewakili satu gagasan penjelas.
c) Hubungan Unsur-unsur Paragraf
Hubungan antarunsur paragraf, terutama kalimat utama dengan kalimat penjelas atau kalimat penjelas dengan kalimat penjelas lainnya, sering menggunakan kata penghubung atau konjungsi.Konjungsi yang berfungsi menggabungkan kalimat-kalimat itu sering disebut konjungsi antarkalimat. Dalam paragraf di atas, tampak satu contoh konjungsi antarkalimat, yakni dengan, demikian. Contoh konjungsi antarkalimat lainnya adalah biarpun demikian, setelah itu, sebaliknya, oleh sebab itu, dan kecuali itu.
d) Ciri-ciri Paragraf yang Baik
1) Kepaduan Paragraf 2) Kesatuan paragraf 3) Kelengkapan 4) Ketepatan Pemilihan Kata
e) Jenis-jenis Paragraf
Berdasarkan letak kalimat utamanya, paragraf dibedakan menjadi lima yaitu paragraf deduktif, induktif, kombinasi, deskriptif, dan narasi. (Kosasih & Hermawan, 2012) Tabel 13. Jenis-jenis Paragraf Jenis Paragrap Letak Kalimat Utama Deduktif Di awal Induktif Di akhir Kombinasi Di awal dan di akhir Deskriptif Tidak memiliki kalimat utama, gagasan pokok tersebar Naratif Tidak memiliki kalimat utama, gagasan pokok tersebar
Kegiatan Belajar 2. Struktur, Fungsi, dan Kaidah Kebahasaan Teks Fiksi
1. Teks Fiksi
2. Konotatif
3. Ekspresif
4. Tema
5. Perwatakan
6. Alur
7. Latar
8. Amanat
9. Cerita Fantasi
10. Cerita Pendek
Kegiatan Belajar 3. Struktur, Fungsi, dan Kaidah Kebahasaan Teks Nonfiksi
Subtopic
Subtopic
Kegiatan Belajar 4. Apreasiasi dan Kreasi Sastra Anak